Kata-kata Tak Senonoh di Buku Kurikulum 2013

Oleh :  Johan Wahyudi

Buku adalah sumber pengetahuan yang teramat penting karena dapat berpengaruh langsung kepada pembacanya. Ketika buku itu dibaca, tentu pembaca akan berusaha memaknai setiap kata dan kalimat yang terdapat di dalamnya. Jika kata dan kalimat itu menguraikan sebuah pengetahuan, tentu pembaca akan berusaha memahaminya. Maka, jadilah ia sebagai pribadi pintar yang berpengetahuan. Namun, apa jadinya jika buku itu berisi kata dan kalimat tak senonoh. Tak dapat dibayangkan, betapa dahsyat pengaruhnya. Terlebih, buku itu adalah buku sekolah dan dipakai oleh anak seusia SMP kelas 7.

Bak petir di siang bolong, dini hari tadi (Sabtu, 31 Agustus 2013 sekitar jam 00.15), saya dikagetkan dan dikejutkan oleh berita Metro TV. Stasiun televisi itu memberitakan bahwa buku Bahasa Indonesia SMP Kelas 7 dengan Kurikulum 2013 yang diterbitkan oleh Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menggunakan kata-kata yang teramat tidak senonoh. Kata-kata itu adalah (maaf) bangsat, kurang ajar, dan bajingan . Temuan itu disampaikan oleh seorang ibu guru di Semarang.

Sambil menunjukkan sampul buku itu, bu guru tersebut langsung membuka halaman buku yang mencantumkan pemakaian kata-kata kasar itu. Ternyata benar bahwa buku itu memang menggunakan kata-kata kasar. Terbaca melalui layar kaca bahwa kata-kata kasar itu berasal dari kutipan semacam cerpen. Dan bu guru itu bersikap bijak, yaitu menghilangkan halaman buku yang menggunakan kata-kata kasar itu agar tidak menambah pengaruh buruk bagi anak-anak meskipun jelas mereka, anak-anak itu, sudah membacanya.

Pentingnya Peran Editor

Meskipun hanya berasal dari kutipan cerita, pemakaian kata-kata kasar itu jelas akan berdampak teramat buruk. Cukup banyak cerita yang masih dapat digunakan untuk menggantikan cerita yang memakai kata-kata kasar. Terlebih, buku ini dipakai oleh anak yang baru duduk di bangku SMP kelas 1 atau 7. Jelas secara kemampuan bernalar, mereka masih teramat dangkal untuk memahami kosakata secara konotatif karena rerata anak SMP kelas 7 baru berumur 12 tahun. Maka, jelas-jelas pula anak-anak itu akan merekam kata-kata itu dan lalu menggunakannya di kehidupan sehari-hari.

Saya tak habis pikir, siapakah penulis buku itu dan di manakah peran penyunting buku itu? Mestinya penulis berusaha mencari bahan-bahan cerita yang berkarakter arif agar nantinya pembaca (baca: anak-anak sekolah) bisa mengambil hikmah positif dari isi cerita. Jika toh penulis kedapatan menggunakan kata-kata kasar, mestinya editor atau penyunting materi dan bahasa langsung menegur penulis naskah agar segera memperbaikinya. Jadi, keteledoran yang berdampak fatal seperti ini bisa dihindari.

Jika saat ini buku Bahasa Indonesia SMP kelas 7 dengan Kurikulum 2013 sudah beredar luas ke seluruh Indonesia, betapa berbahayanya dampak buruk buku itu. Tidak hanya miliaran duit rakyat terbuang sia-sia, tetapi sekaligus dampak negatif yang ditimbulkannya jelas teramat berbahaya bagi karakter anak karena anak-anak tentu akan membaca isi buku itu dan teramat besar kemungkinan menggunakan kata-kata kasar tersebut. Jika konon Kurikulum 2013 menitikberatkan pada aspek karakter, seperti inikah karakter yang diinginkan oleh Mendikbud? Seperti inikah kualitas Kurikulum 2013 yang sering digembar-gemborkan para pembesar di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagai kurikulum terbaik untuk mencetak generasi berkarakter abad ini?

Menurutku, buku itu harus ditarik dari sekolah atau peredarannya karena kata-kata kasar itu jelas teramat berbahaya jika dibaca anak. Mereka (anak-anak) masih berusia belia sehingga tingkat akuisi atau pemerolehan bahasa masih lemah. Apa saja kata yang pernah didengar atau dibacanya, anak-anak itu langsung menggunakannya untuk berkomunikasi sehari-hari. Belum lagi dampak psikis guru yang menggunakan buku itu karena secara otomatis guru pun akan berpotensi untuk dikritik, dicaci, dan bahkan mungkin pula dikata-katai dengan kata-kata kasar itu oleh masyarakat, khususnya orang tua siswa.

Hingga pagi ini, saya masih syok dan teramat terkejut sehingga saya terus berusaha mencari untuk mendapatkan buku tersebut. Namun, hingga saya menulis ini, saya belum mendapatkannya karena daerahku hanya menggunakan 6 SMP sebagai sekolah perintis untuk penerapan Kurikulum 2013. Karena tinggalku di kampung nun jauh dari kota sekaligus jauh pula dari sekolah yang menerapkannya, saya berencana untuk mencarinya nanti siang. Jika teman-teman menjadi guru bahasa Indonesia yang sekolahnya sudah menerapkan Kurikulum 2013, sudilah kiranya teman-teman membuka dan membaca isi buku itu. Jika rekan-rekan kebetulan memiliki anak yang duduk di kelas 7 SMP, sudilah kiranya rekan-rekan membuka dan membaca buku itu. Terima kasih….!!!

About gurusmp5

suatu tempat yang baik untuk belajar dan mengajar
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s