GURU 2.0: Guru untuk Pendidikan di Abad Ke-21?

“Sekolah-sekolah di Finlandia adalah tempat ‘bebas-rasa takut’ di mana anak-anak tidak perlu khawatir tentang persaingan, kegagalan, ataupun prestasi yang di banyak negara dipaksa oleh pengujian standar.” —Pasi Sahlberg

“Guru 2.0” bukanlah guru yang jago Internet atau termasuk Generasi Internet. Ia adalah guru yang berhasil menyiapkan dirinya untuk memasuki abad ke-21. Menurut para ahli, abad ke-21 memerlukan keterampilan-keterampilan baru yang sangat berbeda dengan keterampilan abad-abad sebelumnya. Berpikir tingkat tinggi adalah salah satunya. Berpikir tingkat rendah—sebagaimana saat ini sudah banyak diambil-alih oleh komputer—sudah harus ditinggalkan. Guru harus segera memindah “gigi”-berpikirnya untuk lebih kreatif, inovatif, penuh semangat, mudah berempati, dan luwes atau fleksibel dalam berperan sebagai fasilitator.

Saya memperoleh gambaran tentang guru di abad ke-21 dari sebuah artikel menarik yang dimuat oleh Kompas edisi Senin, 25 November 2013. Kebetulan hari Senin itu bertepatan dengan “Hari Guru Nasional” di Indonesia. Artikel yang saya baca berada di halaman 14 dan berjudul “Pendidikan Abad XXI: Guru Kaku Sudah Tak Laku” yang ditulis oleh Luki Aulia. Artikel menarik tersebut dipijakkan pada sebuah acara di Doha, Qatar, yang bertajuk “World Innovation Summit for Education (WISE)” Kelima. Acara yang disebut sebagai forum tahunan tersebut berlangsung pada 28-31 Oktober 2013.

Salah satu tokoh pendidikan yang dihadirkan untuk meramaikan forum tahunan WISE Kelima adalah Pasi Sahlberg dari Finlandia. Pasi baru saja menikmati kesuksesan buku karyanya yang berjudul Finnish Lessons: What Can the World Learn from Educational Change in Finland? (Teachers College Press, 2011). Buku ini berkisah dengan enak dan mengalir tentang bagaimana upaya Finlandia mereformasi pendidikannya sehingga pendidikan di Finlandia menjadi pendidikan kelas dunia yang disiapkan untuk abad ke-21. Di Finlandia, profesi guru menjadi profesi puncak yang sangat diminati.

Apa kunci kesuksesan reformasi pendidikan nasional di Findlandia? Salah satu kunci itu adalah penekanan pada pentingnya kreativitas. Mata pelajaran terpopuler di kalangan siswa Finlandia adalah art and craft terutama kerajinan kayu (woodwork). Total waktu untuk art and craft sebesar 180 menit per minggu, lebih banyak dari matematika yang memakan waktu 135 menit perminggu. (Sebagai catatan, pembelajaran bahasa adalah yang paling besar alokasi waktunya—hingga 315 menit per minggu). Kenapa demikian? Karena kreativitas dianggap sangat penting, maka mata pelajaran art and craft diposisikan pada urutan atas pula.

Dalam forum tahunan WISE Kelima itu, Pasi dikabarkan menyampaikan hal penting ini: “Tidak semua orang bisa jadi guru di Finlandia. Biasanya hanya ada satu dari 10 calon guru yang akan lolos seleksi. Pendidikan yang diperlukan untuk menjadi guru minimal S-2 dan proses pelatihannya minimal lima tahun. Untuk menjadi guru berkualitas perlu waktu minimal 7-8 tahun.” Jika guru terbaik dari Finlandia diimpor ke Indonesia atau negara lain yang juga memerlukan, dapatkah guru tersebut memperbaiki kualitas pendidikan yang ada di Negara tersebut? Pasi dengan tegas menjawab, “Tidak!” Mengapa tidak bisa?

“Guru dari Finlandia tidak akan bisa membuat keajaiban jika tidak didukung oleh sistem pendidikan yang benar. Tidak akan ada perubahan yang signifikan jika kurikulum dan sistem pendidikannya tidak diubah. Guru itu seperti pemain dalam tim sepakbola. Tetap perlu kepemimpinan yang baik, strategi yang tepat, sikap yang baik, kerja sama tim, dan sistem permainan yang kuat. Setiap anak didik harus mendapat akses terhadap level pembelajaran yang sama. Dengan bekal kepemimpinan yang baik, visi yang jelas, dan guru berkualitas, kondisi pendidikan dapat diperbaiki,” kata Pasi Sahlberg.

Sudah siapkah para guru di Indonesia untuk memasuki pendidikan di abad ke-21?[]

Oleh Hernowo Hasim

About gurusmp5

suatu tempat yang baik untuk belajar dan mengajar
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s