Jika Guru Gagal Dilatih, Gagal juga Perubahan Kurikulum 2013

Tulisan ini dimuat dalam buku peluncuran kurikulum oleh Kompas Gramedia yang terbit pada Januari 2013 dan saya menulis pada akhir tahun 2012.

Proses terjadinya perubahan dalam kurikulum dalam implementasi di kelas dan guru sebagai unsur terpenting harus menjadi pemikiran bahkan sebelum proses pengembangan kurikulum itu sendiri. Pelatihan yang dilakukan sekedar sebagai sosialisasi kurikulum baru tanpa menyertakan pola pendekatan ajar di kelas secara kongkrit akan menjadi penghalang terbesar tercapainya tujuan perubahan kurikulum.

Setiap individu akan menerima sebuah informasi baru atau pengalaman baru berdasarkan pengalaman dan informasi yang dimiliki sebelumnya. Ketika orang tua membuat peraturan baru untuk anak-anaknya di rumah, maka mereka  akan tetap menghubungkan dengan pengalamannya dalam mengikuti peraturan yang lama. Dalam komunitas yang lebih luas, seperti sebuah organisasi sekolah, kebijakan kepala sekolah kepada siswa maupun kepada guru akan selalu membuat mereka mengaitkan dengan  pengalaman siswa dan guru atas kebijakan sebelumnya. Begitu juga ketika dengan sebuah kebijakan baru diperkenalkan oleh pemerintah dalam tata laksana pendidikan kepada sekolah, maka para pelaku pendidikan, dan utamanya guru akan selalu menerima berdasarkan pengalaman yang dimiliki. 

Karena sasaran utama sebuah reformasi kurikulum adalah perbaikan kualitas siswa, maka yang menentukan keberhasilannya adalah proses pembelajaran yang langsung dipimpin oleh guru. Guru di tingkat sekolah dasar rata-rata dituntut untuk dapat menguasai implementasi perubahan kurikulum dalam semua mata pelajaran, sedangkan di jenjang yang lebih tinggi guru setiap mata pelajaran yang berperan. Dalam menyelenggarakan proses pembelajaran dengan landasan kurikulum yang baru, guru pasti akan tetap dipengaruhi oleh cara mereka mengetrapkan proses pembelajaran berdasarkan kurikulum yang sebelumnya. Untuk sampai pada tingkat pengetrapan di kelas maka guru akan menentukan tujuan pada tingkat satuan di kelas, menentukan, teknik mengajar, menentukan materi ajar sebagai alat untuk mencapai tujuan, serta membuat alat ukur untuk mengevaluasi keberhasilan apa yang diajarkan.

Seperti apakah gambaran guru saat ini mengajar? Sejumlah fakta yang saya temukan di lapangan menunjukkan bahwa pada umumnya guru kita di Indonesia masih menganut pola ajar buku text dan menghabiskan isinya. Sebagian besar guru mengandalkan buku text yang ditebitkan oleh berbagai perusahaan penerbitan. Bahkan dokumen kurikulum atau KTSP nyaris tak tersentuh. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran pun nyaris sekedar menjadi dokumen pelengkap akreditasi. Ketika masuk kelas guru lantas minta siswa membuka buku dan kemudian menerangkan bagian yang menurut guru perlu diterangkan dan diakhiri dengan minta siswa mengerjakan soal-soal. Pada umumnya kita tidak melihat adanya proses interaksi yang mengaktifkan siswa berfikir kritis.

Fenomena kurikulum 2013 yang disuarakan untuk menyiapkan anak-anak agar mampu bersaing di abad 21 tampaknya masih jauh api daripada panggang. Sedikitnya ada tiga alasan penting kenapa kurikulum 2013 tidak akan dapat mencapai sasaran yang dicanangkan. Yang pertama tentunya proses pengembangan kurikulum yang tidak didahului oleh riset yang menyeluruh. Selanjutnya adalah anggapan bahwa dengan dibuatkan silabus dari pusat guru tidak akan repot lagi menyusunnya sendiri (Kompas.com 22 Desember 2012), dan terakhir adalah pengutamaan penyusunan materi ajar sebagai salah satu solusi atas kesuksesan implementasi kurikulum. Tiga hal tersebut di atas adalah penyebab tidak mungkin tercapainya tujuan pengembangan kurikulum 2013 yand dimaksud menyiapkan anak-anak untuk siap bersaing secara global.

Sebagaimana layaknya proses perubahan kurikulum, riset seharusnya menjadi kegiatan awal yang melandasi perlunya perubahan kurikulum. Riset ini harus melihat bagaimana kurikulum yang sebelumnya diimplementasikam dalam proses pembelajaran. Unsur-unsur yang mendukung keberhasilan dan penyebab kegagalan. Penenlitian lebih jauh mengenai pola mengajar guru harusnya merupakan prioritas utama agar apapun perubahan yang akan dilakukan dapat diperkirakan persiapan sosialisasinya. Mengingat tingkat keragaman pola pendidikan formal yang tinggi di Indonesia juga perlu dilakukan penelitian mengenai kesamaan dan perbadaan antara pola yang satu dengan lainnya. Misalnya, persamaan dan perbedaan antara gur yang mengajar di daerah terpencil dan di kota, atau antara yang mengajar di satu jenis sekolah RSBI, SSN, dan sekolah regular. Dengan adanya penelitian maka bisa diharapkan perencanaan perubahan menjadi realistis dan akhirnya dapat diimplementasikan dengan tingkat hambatan yang rendah.

 Jika diasumsikan bahwa dengan dibuatkan silabus dari pusat guru akan tidak mengalami kesulitan lagi adalah sebuah ungkapan yang terlalu menyederhanakan keberhasilan proses pembelajaran, Akankah dengan silabus yang sudah siap akan serta merta membuat guru mampu membawakannya di kelas? Belum tentu. Jika sekedar dokumennya yang siap bukan menjadi jaminan bahwa guru akan otomatis mengerti bagaimana mengimplentasikan di kelas. Sebagai contoh adalah dengan kurikulum KTSP, wlaupun guru kesulitan mengembangkannya, dokumen KTSP rata-rata ada di sekolah. Dokumen tersebut rata-rata adalah dikembangkan oleh penerbit yang memproduksi buku ajar yang dipakai oleh sekolah. Namun tetap saja dokumen KTSP tidak menjadi rujukan. Mengajar bukan mengacu pada tujuan tetapi lebih pada materi ajar.

Disampaikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan bahwa walaupun kurikulum belum tuntas pembahasannya buku pelajaran sudah dipersiapkan (detik.com 6 Desember 2012). Bahkan seorang penulis buku (tak dapat kami sebut namanya) telah diminta sejak bulan November 2012. Hal ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa dengan diproduksinya buku dari pusat yang sepenuhnya mengacu pada kurikulum 2013 maka segala tujuan dari kurikulum tersebut dianggap akan tercapai. Padahal materi ajar dan perangkat pembelajaran lainnya adalah alat yang  ketepatan penggunaannya hanya ada di tangan guru. Hanya guru yang mampu mengubah materi ajar menjadi alat pengembang daya nalar, daya rasa, dan daya karsa.

 Ketiga hal di atas menjadi pentingnya dilaksanakan pelatihan guru yang komprehensif, praktis dengan mengarah pada experiential training jika memang implementasi kurikulum 2013 diharapkan berhasil. Pelatihan dengan metode informasi melalui presentasi power point bukan pendekatan pelatihan yang akan mengubah pola pendekatan mengajar  apalagi mengubah paradigm mengenai proses belajar mengajar yang merangsang anak berfikir. Sebagaimana disampaikan pada awal artikel ini bahwa guru akan tetap cenderung merujuk pada kebiasaan yang telah dijalankan bertahun-tahun ketika dikenalkan kepada suatu konsep baru. Kebiasaan itu hanya dapat diubah melalui pelatihan yang tepat, kepada guru sebagai penyelenggara kurikulum di kelas.

Pelatihan guru yang tepat adalah yang menerapkan metode experiential, diselenggarakan secara intensif dan berkesinambungan, serta oleh pelatih guru yang memahami segala latar belakang kurikulum 2013. Disamping itu jumlah rombongan belajar juga tidak lebih dari 30 orang. Mungkinkan itu semua dilakukan antara Januari sampai kira-kira Mei sebelum dimplementasikan pada tahun ajaran baru 2013? Mari kita lakukan perhitungan, jika jumlah guru ada sekitar juta orang berapa lama waktu diperlukan untuk member pelatihan tepat kepada mereka? Disampaikan bahwa dalam waktu enam bulan akan ada 350 ribu master teacher yang akan diberi pelatihan? Pertanyaan berikutnya siapakah yang memberi pelatihan kepada mereka? Dosen? Pejabat kementrian? Atau siapa? Sebelum mereka memberi pelatihan kepada para master teacher siapakah yang akan memberi mereka wawasan tentang kurikulum 2013?

 Mengingat kompleksnya perubahan yang akan terjadi terutama di tingkat sekolah dasar jelas bahwa tidak akan mungkin pelatihan dengan jumlah waktu yang pendek dengan jumlah peserta yang besar maka sudah dapat ditebak bahwa pelatihan akan sekedar dilaksanakan dan guru kembali pada pola yang sudah diyakini begitu lama sebelumnya.

Oleh : Itche Chodidjah

About gurusmp5

suatu tempat yang baik untuk belajar dan mengajar
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s